Jumat, 27 Maret 2015

Rumah

Kala hari berganti malam, semburat jingga kemerahan mewarnai langit yang tadinya biru. Di kota seperti ini, kendaraan-kendaraan masih memenuhi jalanan yang seharusnya mulai lengang. Trotoar ramai akan orang-orang yang berlalu lalang dengan wajah letih akibat bekerja seharian. Mereka semua sama, menempuh jalan pulang.

Lalu bagaimana denganmu? Apakah kau sama seperti mereka?

Aku kadang mempertanyakan diriku sendiri. Mengapa aku begitu bodoh dalam mengambil keputusan? Aku begitu bodoh, memintamu untuk pergi.

Aku hanya seorang lemah dengan pikiran yang begitu kompleks. Mungkin kau takkan pernah mengerti. Mungkin aku takkan pernah bisa menjelaskan apapun tentangku padamu. Begitulah aku, hanya terus berharap agar kau mengerti. Agar kau dapat melihat semuanya melalui sudut pandangku.

Jika kau sedang membaca tulisan ini, maukah kau percaya?
Bahwa banyak hal yang memaksa kita untuk melakukan hal-hal yang tidak kita inginkan.

Bahwa kadang perpisahan terjadi untuk masa depan yang lebih baik. Di sela-sela perjalananmu itu, maukah kau mengingatku?

Ibaratkan saja aku sebagai sebuah rumah. Bukan rumah ber-AC, namun cukup untuk melindungimu dari teriknya matahari dan curahan hujan. Bukan rumah mewah berpagar tinggi, namun mampu membuatmu nyaman untuk berada di dalamnya.

Dan pernahkah terpikir olehmu bahwa sebuah rumah tak akan pernah utuh tanpa penghuninya? Maka pulanglah. 

Pulanglah jika itu keinginanmu. 
Pulanglah saat kau lelah melangkah. 
Pulanglah ketika kau butuh atap untuk berteduh.

Pulanglah.
Pintuku selalu terbuka.

Anggap ini sebuah surat, prosa, atau kalimat-kalimat tak masuk akal. Aku tak peduli. Tetapi anggaplah saja.. anggap saja aku ini rumahmu.

Aku mungkin tidak utuh. Tapi setidaknya aku ada.